HARUS bertindak. Ini yang dirasakan anggota klub motor setelah terjadi serangkaian insiden, termasuk tewasnya seorang mahasiswa Unair, yang pelakunya adalah anggota geng motor liar. Karena sama-sama bergerombol menggunakan sepeda motor, anggota klub motor tersebut terimbas pandangan negatif masyarakat.
Itulah yang kemudian menggerakkan para klub motor untuk aktif menyambut inisiatif Ditlantas Polda Jatim. Bertempat di Sirkuit Kenpark kemarin sore (21/6), mereka ramai-ramai mengucapkan ikrar anti kekerasan dan tertib berlalu lintas.
Ada lima poin ikrar tersebut. Yakni, bertakwa kepada Tuhan, menjunjung tinggi kedaulatan NKRI, selalu menjaga persaudaraan antar sesama biker, siap menaati aturan lalu lintas dan menjaga ketertiban umum, serta anti kekerasan maupun segala perbuatan melawan hukum.
”Saya yakin bikers Jawa Timur bisa menciptakan situasi aman, nyaman, dan menjaga ketertiban,” jelas Wakapolda Jatim Brigjen Pol Eddy Haryanto yang kemarin didaulat untuk memimpin upacara para biker.
Acara itu berlangsung dengan meriah. Meski acara dimulai pukul 15.00, beberapa kelompok biker sudah berada di area Kenpark Kenjeran sekitar pukul 13.00. Berbagai macam jenis roda dua tumplek bleg di sana. Mulai tua, muda, sampai yang membawa keluarganya menunjukkan harmonisasi asasbrotherhood yang selama ini dipegang erat para biker. Bahkan, ada kelompok motor Astrea Grand yang dimodifikasi menjadi roda tiga. Anggotanya adalah orang difabel semua.
Soal rasa cintanya pada tanah air, jangan ditanya lagi. Bikers juga menunjukkan semangat itu. Contohnya, saat menyanyikan lagu kebangsaanIndonesia Raya, tanpa dikomando mereka semua berdiri. Lantas, mereka bergandengan tangan serta berpegang erat dengan bahu teman masing-masing. Sebagian mereka juga meneteskan air mata.
”Kami di sini kumpul bisa mengenal satu sama lain. Bisa saling menghormati kalau nanti ketemu di jalan pas touring,” beber Ponari atau di kalangan bikers akrab disapa Eyang Gondrong itu. Dia datang bersama komunitas KCBD dari Gresik.
Hal senada diungkapkan Sefiyar Lutfi, yang datang bersama Bikers Owners Surabaya. Dia menganggap ikrar itu juga menjadi ajang silaturahmi bagi sesama klub motor.
Demikian juga pasangan Anang Setiawan dan Suryani. Pada deklarasi kemarin, mereka mengajak anak perempuannya, Tasya. Mereka memang hobi motor sejak sama-sama masih bujang. ”Anak saya kalau ikut touringselalu ada di tengah. Ya, kami juga memikirkan keselamatan. Tidak asal berangkat,” ungkap Suryani.
Deklarasi tersebut juga menandakan bahwa para biker kompak menyetujui kampanye anti kekerasan oleh klub motor. Tujuh perwakilan dari masing-masing wilayah menerima pin pelopor. Itu secara simbolis menandakan mereka turut serta menjaga ketertiban lalu lintas.
Dirlantas Polda Jatim Kombespol Verdianto Iskandar meminta kepada parabiker agar tidak menjadikan deklarasi sebagai acara seremonial belaka. Ke depan, mereka harus ikut andil untuk menyukseskan program korps lalu lintas dalam menekan angka kecelakaan. ”Mereka bisa jadi contoh buat yang lain. Saat di jalan, mereka harus bisa menunjukkan ketertiban mematuhi aturan yang ada,” ujar perwira polisi dengan tiga melati di pundak itu.
Pasca acara tersebut, memang dibutuhkan langkah konkret bagi para bikeruntuk mewujudkan janjinya. Terutama tentang balap liar. Mereka juga harus berpartisipasi aktif untuk bisa memberantas balap liar.
Nono Samadiman, ketua Forum Bikers Suroboyo, mengatakan, kejadian di Ngagel Jaya Selatan hendaknya tidak dikaitkan dengan para klub motor. Peristiwa itu murni aksi kriminalitas. Dia menjamin para biker tidak melakukan tindakan brutal seperti itu. ”Itu murni penjahat jalanan,” bebernya.
Usaha memberantas geng motor pernah dilakukan para biker. Mereka juga gerah dengan tudingan miring masyarakat. Jauh sebelum kejadian di Ngagel Jaya Selatan, mereka punya penilaian bahwa balap liar bisa merusak citrabiker.
Heri Dwi dari Gresik Cyborg mengatakan pernah mendekati para ABG yang hobi kebut-kebutan ilegal itu. Secara perlahan, mereka masuk ke geng motor. ”Mereka harus didekati pelan-pelan. Setelah itu, kami juga meminta bantuan polisi, melapor ke polisi. Nanti kalau ada yang seperti itu lagi di tempat kami (Gresik, Red), pasti kami laporkan juga,” ungkapnya.
Kini masyarakat tidak boleh lagi mengecap biker sebagai bagian dari geng motor. Ketua IMI Jawa Timur Bambang Haribowo menegaskan bahwa klub motor berbeda dengan gerombolan balap liar. ”Klub adalah anggota yang terdaftar dalam IMI. Setelah ini, kami tetap berkoordinasi dengan mereka,” jelasnya. (did/c7/ano)
Sumber: www.jawapos.com
Sumber: www.jawapos.com




